Umum

raja atau ratulah yang menjadi eksponen mikrokosmos, negara

Kedudukan Raja dalam Kehidupan Negara

Dalam konsep orang Jawa tentang organisme negara, raja atau ratulah yang menjadi eksponen mikrokosmos, negara. Dalam pandangan ini terdapat dua faktor yang penting bagi pemahaman orang Jawa mengenai kehidupan negara : pertama, adanya kesejajaran antara mikrokosmos dan makrokosmos, dan kedua adalah adanya pengaruh timbal balik antara mikrokosmos dan makrokosmos. Dalam dunia Islam penghapusan penyamasuaian raja-dewa tidaklah mengurangi tuntutan pokok : kekuasaan raja menyeluruh dan mutlak atas para kawula. Mataram dan Demak disebut sebagai pusat Islam saat itu.
Jadi raja ditempatkan pada tampuk tata masyarakat, jauh di atas jangkauan orang biasa. Sudut pandangan ini pada suatu waktu menimbulakan gagasan tentang raja sebagai kekuasaan politik yang tidak aktif., sebagai ratu pinandita (raja pendeta) yang daripadanya memancar pengaruh-pengaruh yang dermawan yang meresapi seluruh kerajaannya. Peran serta yang aktif dalam urusan negara diserahkan kepada pejabat-pejabat utamanya.
Tugas raja sejajar dengan prototipe surgawinya, dia harus mempertahankan atau memulihkan tata dunianya, sehingga bukan hanya dalam struktur tetapi juga dalam fungsinya, mikrokosmos akan mencerminkan makrokosmos. Tugas raja dalam bidang politik adalah menjaga supaya jangan sampai terjadi gangguan-gangguan dan memulihkan ketertiban kalau seandainya sudah terjadi. Jadi orang dapat melihat bahwa campur tangan raja dianggap perlu hanyalah bila keadaan kerajaan menjadi tidak seimbang. Perhatian pertama raja adalah pengaturan birokrasi dan pelaksanaan pemerintahan. Yang kedua adalah pengawasan atas pegawai-pegawainya, yang ketiga megetahui situasi di semua bagian kerajaan dan yang terakhir menghukum para pelaku kejahatan.

Dibebani oleh godaan-godaan kekuasaan yang tiada batas dan tanggung jawab tunggal dan luas sekali untuk mempertahankan ketertiban dunia ini, maka raja haruslah luar biasa keunggulannya dan kecakapannya. Raja yang ideal menurun masyarakat Jawa adalah raja yang yang terus menerus mencari tuntunan ilahi di dalam batin ini. Dan akan menyatakan dirinya dalam kawicaksanaan raja, suatu kemampuan yang langka dan dihargai sangat tinggi, yang tidak hanya memberikan pemiliknya pengetahuan yang seluas dan sebanyak mungkin tetapi juga kesadaran terdalam mengenai kenyataan dan rasa keadilan.
Maka raja pun seyogyanya memiliki kedelapan kebajikan ini :
1. Dana yang tak terbatas, kedermawanan (sifat Bathara Endra)
2. Kemampuan untuk menekan semua kejahatan (Yama)
3. Berusaha membujuk dengan ramah dan tindakan yang bijaksana (Surya)
4. Kasih sayang ( Bathara Candra)
5. Pandangan yang teliti dan pikiran yang dalam (Bathara Bayu)
6. Kedermawanan dalam memberikan harta benda dan hiburan (Kuwera)
7. Kecerdasan yang tajam dan cemerlang dalam menghadapi kesulitan macam apa pun (Baruna)
8. Keberanian yang berkobar-kobar dan tekad yang bulat dalam melawan setiap musuh (Brama)
Pada semua tokoh ini, sifat yang paling terpuji adalah kekuatan batin yang kuat dalam usaha menahan diri dari kenikmatan duniawi. Perilaku yang demikian memperlihatkan tekad yang tulus dan teguh untuk mencapai sesuatu maksud tertentu. Syarat lain menjadi raja ideal ialah kemampuannya untuk memilih pegawai-pegawainya.

SUmber: https://digitalcamera.co.id/