Pendidikan

Jenis Kompetensi Guru

Jenis Kompetensi Guru

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 perihal Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 bahwa: Pendidik mesti punya kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, dan juga punya kekuatan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang mesti dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan cocok ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan basic dan menengah meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan
kompetensi sosial.

Kompetensi guru menurut Surya didalam Kunandar (2007:55) meliiputi
1. Kompetensi intelektual,yaitu beraneka perangkat pengetahuan yang ada didalam diri individu yang diperlukan untuk menopang beraneka aspek kinerja sebagai guru.
2. Kompetensi fisik yakni perangkat kekuatan fisik yang diperlukan untuk menopang pelaksanaan tugas sebagai guru didalam beraneka situasi.
3. Kompetensi pribadi, yakni perangkat tabiat yang berkenaan dengan kemapuan individu didalam mewujudkan dirinya sebagai spesial yang berdiri sendiri untuk jalankan transformasi diri, identitas diri, dan pemahaman diri.
4. Kompetensi sosial, yakni perangkat tabiat tertentu yang merupakan basic dari pemahaman diri sebagai anggota yang tidak terpisahkan dari lingkungan social dan juga tercapainya pertalian social secara efektif.
5. Kompetensi spiritual, yakni pemahaman, penghayatan, dan juga pengalaman kaidah-kaidah keagamaan.

Menurut Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 perihal Guru dan Dosen, untuk bisa menjadi guru yang profesional seseorang mesti punya empat kompetensi, yakni kompetensi pedogagik, kompetensi kepibadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang diperoleh lewat pendidikan profesi.

Kompetensi kepribadian adalah kekuatan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman pada peserta didik, rencana dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi beraneka potensi yang dimilikinya. Kompetensi profesional merupakan penguasan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, termasuk penguasaan materi kurikulum pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, dan juga penguasaan terhadapa susunan dan metodologi keilmuannya. Sedangkan kompetensi social merupakan kekuatan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik , sesama peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan penduduk sekitar.

Menurut Kunandar (2007:56) untuk bisa menjadi seorang guru yang punya kompetensi, maka diharuskan punya kekuatan untuk mengembangkan tiga aspek kompetensi yang ada pada dirinya, yakni kompetensi pribadi, kompetensi profesional, dan kompetensi kemasyarakatan. Kompetensi spesial adalah sikap guru berjiwa pancasila yang menekankan budaya bangsa Indonesia, yang mau berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya. Kompetensi profesional adalah penguasaan akademik yang diajarkan dan terpadu dengan kekuatan mengajarnya sekaligus agar guru itu punya wibawa akademis. Sementara itu, kompetensi kemasyarakatan (sosial) adalah kekuatan yang berhubungan dengan wujud partisipasi sosial seorang guru didalam kehidupan sehari-hari penduduk tempat ia bekerja, baik resmi maupun informal. Guru yang bisa mengembangkan ketiga aspek kompetensi didalam dirinya dengan baik, maka ia tidak cuma beroleh kesuksesan tetapi juga akan beroleh kepuasan atas profesi yang dipilihnya.

Kompetensi yang dimiliki guru didalam jalankan profesinya, tak hanya menguasai tehnik dan siasat didalam kesibukan pembelajaran juga mesti menguasai seperangkat kekuatan (competency) yang beraneka ragam. Jenis-jenis kompetensi menurut Usman(2004:15) dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Kompetensi Pribadi
a) Mengembangkan kepribadian yaitu: bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berperan didalam penduduk sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila, mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
b) Berinteraksi dan berkomunikasi, yaitu: berinteraksi dengan kawan sejawat untuk menaikkan kekuatan profesional, berinteraksi dengan penduduk untuk penuaian misi pendidikan.
c) Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, yaitu: membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar, membimbing siswa yang berkelainan dan memiliki bakat khusus.
d) Melaksanakan administrasi sekolah, yaitu: mengenal pengadministrasian sekolah, jalankan kesibukan pengadministrasian sekolah.

2. Kompetensi Profesional
a) Menguasai landasan kependidkan, seperti: mengenal tujuan pendidikan untuk menggapai tujuan pendidikan nasional, mengenal kegunaan sekolah didalam masyarakat, dan mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang bisa dimanfaatkan didalam proses pembelajaran.
b) Menguasai bahan pembelajaran, seperti: menguasai materi pembelajaran, kurikulum pembelajaran cocok jurusan.
c) Menyusun progam pengajaran, seperti: menentukan tujuan, pilih dan mengembangkan bahan pembelajaran, pilih dan mengembangkan sarana pembelajaran, pilih dan mengembangkan sumber belajar.
d) Melaksanakan progam pengajaran, yaitu: menciptakan iklim pembelajaran yang tepat, sesuaikan ruangan belajar, dan mengelola pertalian studi mengajar.
e) Menilai hasil dan proses pembelajarn yang telah dilaksanakan, yaitu: menilai prestasi siswa untuk keperluan pembelajaran, dan menilai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Sementara Sudjana (1998:18) telah membagi kompetensi guru didalam tiga style pada lain:
1. Kompetensi Kognitif, berarti kekuatan bidang intelektual seperti penguasaan mata pelajaran, pemgetahuan perihal mata pelajaran, pengetahuan perihal langkah belajar, pengetahuan perihal studi dan tingkah laku individu, pengetahuan perihal administrasi kelas, pengetahuan perihal langkah menilai hasil studi siswa, dan pengetahuan perihal kemasyarakan dan juga pengetahuan umum lainnya.
2. Kompetensi Sikap, berarti kesiapan dan kesediaan guru pada beraneka perihal perihal dengan tugas dan profesinya. Misalnya, sikap menghargai pekerjaannya, mencintai dan punya perasaan senang pada mata pelajaran yang dibinanya, sikap toleransi pada kawan seprofesinya, dan punya hasrat yang keras untuk menaikkan hasil pekerjaannya.
3. Kompetensi Perilaku/performance, berarti kekuatan guru didalam beraneka ketrampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul dan berkomunikasi dengan siswa, ketrampilan menumbuhkan motivasi studi para siswa, ketrampilan menyusun persiapan/perancanaan mengajar, ketrampilan jalankan administrasi kelas, dan lain-lain.

Sehubungan dengan perihal itu, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (dalam Arikunto,2002) menjabarkan sepuluh kompetensi yaitu:
1. Kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan
2. Kemampuan menguasai bahan pelajaran yang akan disajikan
3. Kemampuan mengelola program studi mengajar
4. Kemampuan mengelola kelas
5. Kemampuan mengelola pertalian studi mengajar
6. Kemampuan menggunakan media/sumber belajar
7. Kemampuan menilai hasil studi (prestasi siswa)
8. Kemampuan mengenal kegunaan dan program layanan bimbingan dan penyuluhan.
9. Kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan
10. Kemampuan mengetahui prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan kegunaan keperluan mengajar.

Guru merupakan kunci kesuksesan sebuah instansi pendidikan. Guru adalah sales agen dari sebuah instansi pendidikan yakni sekolah. Baik atau buruknya tabiat (cara menagajar) guru akan terlalu mempengaruhi citra instansi pendidikan tersebut. Oleh gara-gara itu sumber energi guru ini mesti dikembangkan baik lewat pendidikan dan pelatihan dan juga kesibukan lain agar kekuatan professionalnya lebih meningkat, gara-gara dengan meningkatnya kompetensi guru, akan mempengaruhi hasil studi peserta didiknya.


Sumber: https://penirumherbal.co.id/