Umum

Faktor Penentu Hasil Tanin

Faktor Penentu Hasil Tanin

 

Tanin ini merupakan bahan penyamak yang dapat berasal dari kulit, akar, buah, kayu dan daun tanaman tertentu. Misalnya kulit bakau, segawe, trengguli, akasia (penghasil tanin penyamak), kulit soga (penghasil tanin pewarna), daun teh, gambir (penghasil tanin pewarna dan pengganti penyamak) (Kasmudjo, 2010).

Bahan penyamak berupa tanin berfungsi untuk mengubah kulit (hewan) yang labil menjadi kulit jadi yang stabil. Menurut Kasmudjo (2010) menyatakan bahwa ada tiga macam bahan penyamak, yaitu bahan penyamak nabati (bahan penyamak berasal dari tumbuhan), bahan penyamak mineral (bahan yang berasal dari logam), dan bahan penyamak sintesis (bahan berupa larutan penggati bahan penyamak nabati).

Dari ke-3 macam bahan penyamak itu, ada baik kita perlu tahu cara pengolahan bahan penyamak tanin. Menurut Kasmudjo (2010) menyatakan ada tiga proses pengolahan tanin, sebagai berikut :

  1. Mempersiapkan bahan baku dan diusahakan dalam ukuran kecil (diblender, dicacah, dipotong dan sebagainya).
  2. Memasukkan ke dalam alat ekstraksi, sehingga air suling (distilat) dan sari bahan penyamak.
  3. Mengeringkan sari bahan penyamak melalui alat oven, sehingga hanya memperoleh bahan penyamak padat lembek yang semakin memadat setelah dibiarkan (di udara terbuka) dengan waktu tertentu. Sebelum memadat dapat pula dipanaskan seperlunya dan kemudian dicetak sehingga diperoleh tanin cetakan.

Setelah memperoleh tanin yang diinginkan, kita akan tahu kategori rendemen yang kita hasilkan dari pengolahan tanin sebelumnya. Untuk mengetahui kategori rendemen tanin untuk bahan penyamak (Kasmudjo, 2010), sebagai beikut.

  1. Sangat baik (Lebih dari 45%)
  2. Baik (15-45%)
  3. Sedang (10-15%)
  4. Kurang (Kurang dari 10%)

Hasil tanin yang kita peroleh dapat berbeda-beda, dimana akan hal itu dipengerihi oleh lima faktor, sebagai berikut (Kasmudjo, 2010).

  1. Jenis Tanaman, merupakan faktor mempengaruhi dari kandungan zat yang dimiliki setiap jenis tanaman memiliki nilai yang berbeda-beda, sehingga mampu mempengaruhi hasil tanin itu sendiri.
  2. Tanah dan iklim, merupakan faktor yang mempengaruhi melalui habitat suatu tanaman, dimana tanaman yang tumbuh di daerah lebih subur dan basah iklimnya mempunyai kadar tanin yang lebih banyak.
  3. Umur tanaman, merupakan faktor yang mempengaruhi hasil tanin, dimana umur tanaman yang meningkat kadar taninnya juga meningkat (semakin bertambah).
  4. Kulit batang pohon, merupakan faktor yang mempengaruhi melalui bagian pohon itu sendiri, dimana pada bagian pangkal batang kulit kayunya mengandung tanin yang lebih banyak.
  5. Cara ekstraksi, merupakan faktor yang mempengaruhi hasil tanin, dimana proses ekstraksi dengan air panas menghasilkan tanin yang lebih banyak.

Sumber: https://bingo.co.id/video-hdr-di-aplikasi-mobile-youtube-kini-dibatasi-1080p/