Pendidikan

Kerajaan Samudera Pasay

Kerajaan Samudera Pasay

Sumber 1

Dengan pendiri Moehler Caiya yang menjadi kerajaan Maharaja Mahmud Sear, ada sumber informasi yang mengatakan bahwa tanggal pendirian kerajaan maritim adalah 433 H / 1024 M. Ia memerintah hingga 470 H / 1078 M.

Maka pemerintah akan sebagai berikut.

Maharaja Mansourcia (470-527H / 1078-1133 M)
Maharaja Ghiyasyuddin syah, cucu Meurah Khair (527-550H / 1133-1155M)
Maharaja Nuruddin atau Meurah Noe atau Tengku Samudra atau Sultan Al-Kamil (550 – 607 H / 1155 – 1210 M).

Dia adalah sultan terakhir dari keturunan Meurah Khair. Setelah kematian kerajaan Islam di Sumatra, mereka tidak memiliki keturunan, jadi ini menjadi perjuangan bagi pihak berwenang.

Sekitar 50 tahun yang lalu, Samuela Pasay berada dalam kontradiksi, sehingga akhirnya Meurah Silu didasarkan pada dinasti yang dikuasai Perlak selama lebih dari dua abad dan kemudian bersatu dalam era Sultan Muhammad Al-Zahir (1289-1326 M) saya meraih kekuasaan.

Sumber 2

Berita dari Cina dan catatan nomaden Ibnu Batutah dari Maroko merujuk kepada kerajaan samudera setelah yayasan pada tahun 1282 oleh pendiri Al – Malik Al – Saleh.

Pada waktu itu ia mengirim utusan ke Quilon yang berada di pantai barat India dan bertemu dengan seorang duta besar dari Tiongkok. Nama Duta Besar yang dikirim adalah Fusien dan Sulaiman (nama Muslim).

Kemudian ketika Marco Polo mengunjungi Sumatra pada tahun 1346 M, ia mengatakan bahwa ada sekitar satu abad di mana Islam, yang disiarkan, diikuti oleh Sekolah Syafi’i berlanjut.

Samuela Lapasai juga merupakan pusat pembelajaran Muslim, tempat bagi para sarjana dari berbagai negara untuk berkumpul dan membahas masalah agama dan sekuler.

Ibn Batutah juga mengatakan bahwa Samuel La Pasay memainkan peran penting dalam Islamisasi Malaka dan Jawa. Sultan Al-Malik al-Zahir adalah pecinta teologi, selalu memerangi orang-orang kafir dan berpindah agama menjadi Muslim.
Basis ekonomi Kerajaan Samudera Pasay lebih condong ke pengiriman dan perdagangan. Kerajaan ini dipandang sebagai kerajaan yang makmur.

Alasannya adalah bahwa dari sudut pandang geografis dan ekonomi pada saat itu, Laut Pasay terhubung antara pusat-pusat perdagangan kepulauan Indonesia, Cina, India, dan Arab.

Disebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit dan menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit.

Sebelum pasukan Majapahit meninggalkan Samudera Pasay dan kembali ke Jawa, para pejabat Majapahit sepakat untuk menunjuk seorang raja yang dipercaya untuk mendominasi kerajaan dari kaum bangsawan Pasay.

Raja yang ditunjuk adalah Sultan Al-Malik Al-Zahir dari Ratu NuruIlah atau Malikah NuruIlah bint.

Tahun kematian Malikah, NuruI adalah tahun 1380 M bertepatan dengan masa pemerintahan kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.

Pada saat itu Majapahit berada di puncak karena dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.

Daftar raja-raja

yang mendominasi kerajaan Muslim Samudra Lapasai, yaitu:

Sultan Al-Marik Al Salay (1297 M)
Muhammad Maliku Alzahir (1297-1326 AD)
Muhammad Malik Al-Zahir II (1326-1345 M)
Mansur Malik Al-Zahill (1345-1345 M)
Ahmad Malik Al-Zahir (1345-1383 M)
Bukit Xinar Avidin Marike Alsa (1383-1405 M)
Narasiya (1405 -?)
Abu Zaid Marik al-Zahir (? -1455 M)
Mahmoud Malik Al-Zahir (1455-1477)
Xinal Avidin (1477-1500 M)
Abdullah Malik Al-Zahir (1501 – 1513 M)
Xinal Avidin (1513-1524 M)

Selama Sultan terakhir 1521 M, Samudera Pasay didominasi oleh Portugis selama tiga tahun. Pada 1524 pemerintahan kerajaan Islam Sumatra digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam.


Sumber: https://compatibleone.org/seva-mobil-bekas/