Masa Depan Anak Saya
Umum

Masa Depan Anak Saya

Masa Depan Anak Saya

Masa Depan Anak Saya
Masa Depan Anak Saya

Beberapa waktu lalu Harian Surya menulis kegelisahan para ibu di Amerika Serikat. Anak-anak mereka yang belum beranjak remaja mengidolakan Lindsay Lohan atau Britney Spears. Padahal, menurut ibu-ibu itu, untuk dijadikan suri teladan, kedua artis ini jauh panggang daripada api. Mabuk-mabukan, pesta sana pesta sini, dan bangga memamerkan aurat yang paling aurat sekalipun di depan publik adalah sederet ”prestasi” yang pernah dibuat oleh kedua artis ini. Media massalah yang menjadi biang keladi. Oleh media massa, anak-anak itu seolah-olah diajari bahwa tingkah polah kedua artis itulah yang ideal dan keren. Pendidikan bermutu, lingkungan yang baik, dan orang tua yang bijak adalah benteng yang bisa melindungi anak-anak dan remaja dari pengaruh buruk media, demikian pernyataan seorang praktisi masalah anak-anak dan remaja pada tulisan yang sama.

Apa yang terjadi di Amerika Serikat tersebut kurang lebih terjadi juga di Indonesia. Masalahnya, adakah pendidikan bermutu, lingkungan yang baik, dan orang tua yang bijak di negeri ini?

Pendidikan

Suatu hari, setelah bepergian jauh beberapa hari, Nabi mencari-cari Qarkha’. Mengapa ia tidak hadir mengikuti shalat jamaah? Sakitkah ia? Nabi kemudian bertanya tentang kabar Qarkha’ kepada sahabat-sahabat lain. Ternyata Qarkha’ telah meninggal tiga hari yang lalu. Nabi lalu bergegas menuju tempat di mana Qarkha’ dikuburkan. Beliau kemudian shalat jenazah dan berdoa di situ.

Riwayat di atas dijadikan landasan hukum oleh sebagian ulama bahwa shalat jenazah masih boleh dilakukan setelah jenazah dikuburkan selama tiga hari.

Sebenarnya terdapat sesuatu yang lebih dari sekadar hukum fiqh pada riwayat di atas. Tahukah Anda siapa Qarkha’ itu? Qarkha’ ”hanyalah” seorang sahaya, hitam-legam, tukang sapu masjid Nabawi, dan karena itu ia dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Tetapi priyantun agung, tuan para nabi dan utusan itu, justeru menunjukkan penghargaan yang luar biasa kepada Qarkha’. Suatu bentuk pengakuan nyata terhadap persamaan derajat manusia. Sisi ini, setahu penulis, tidak pernah diangkat dan digarisbawahi dalam studi Islam, baik di kalangan Islam modern maupun tradisional.

Sistem pendidikan kita terlalu memandang sebelah mata persoalan sejarah. Dalam contoh di atas sedikit tergambarkan bagaimana sejarah Islam diperlakukan. Sejarah Islam memang diajarkan, tetapi hanya ditampilkan sebagai hapalan atas serpihan fakta-fakta, tak berangkai satu sama lain, dan di sana-sini dibumbui kebencian pada golongan lain, seagama atau berbeda agama. Sejarah agama hanya dijadikan sumber etiket, bukan etika.

Lemahnya aspek pembacaan-kritis sejarah adalah salah satu kelemahan pendidikan kita. Ada beberapa cacat lain yang harus menjadi kegelisahan kita bersama. Pertama, sistem pendidikan kita menjejalkan terlalu banyak materi pelajaran kepada anak didiknya, tetapi sama sekali tidak menyentuh konsep dasar materi tersebut. Penulis membuktikan sendiri pada murid-murid privatnya. Mereka hapal di luar kepala rumus ini dan itu, tetapi tidak paham gambaran riil rumus tersebut. (Penulis selalu meminta murid-muridnya untuk menggambar persoalan. Menurut Ali Asghar—dan ini dibuktikan sendiri oleh penulis, seseorang dikatakan paham sebuah persoalan jika ia mampu melukiskannya dalam bentuk gambar geometris). Kedua, pendidikan kita cenderung mengasingkan anak-anak didiknya dari dunia mereka. Di kampung penulis, anak-anak SD diajari semacam pengantar informatika, padahal mereka tidak pernah tahu rupane kompiuter kuwi koyok apa. Mereka dijejali deret Fibonanci (ini beneran, lho!), padahal yang ada di sekitar mereka adalah deretan gunung kering kerontang tak berpohon. Inilah buah KBK, Kurikulum Berbasis Kebingungan atau Kurikulum Berbasis Keproyekan itu. Ketiga, pendidikan kita lebih menekankan aspek kecerdasan intelektual (meskipun ini juga dilakukan dengan tidak serius). Sejarah, sastra, dan seni diletakkan pada nomor kesekian dalam Kurikulum Berbasis Kebingungan itu.Dan keempat, pendidikan kita cenderung melahirkan elitisme dan manusia-manusia angkuh.

Belakangan mulai bermunculan sekolah-sekolah dengan metode dan kurikulum alternatif sebagai jawaban atas kegelisahan di atas. Muncullah sekolah-sekolah alam, fullday school, dan sebagainya. Tetapi masih ada ganjalan di benak penulis. Sekolah-sekolah ini masih juga berbau elitisme.

Baca Juga :