Filsafat Konstruktivisme
Pendidikan

Filsafat Konstruktivisme

Filsafat Konstruktivisme

Filsafat Konstruktivisme

ealistic mathematics education yaitu inovasi pendekatan pembelajaran matematika sejalan dengan teori belajar konstruktivisme. Pembelajaran matematika realistik mengacu kepada belajar siswa yang aktif dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan. Tahap-tahap teori belajar konstruktivisme yaitu:

  1. Peserta didik menusun pengetahuan matematika dengan menggabungkan ide yang mereka miliki.
  2. Pembelajaran lebih menyenangkan karena peserta didik mengerti.
  3. Strategi peserta didik lebih bernilai.
  4. Peserta didik berdiskusi dan bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan temannya.

Dalam mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, rancangan pembelajaran yaitu:

  1. Peserta didik memikirkan pengalamannya untuk melatih berpikir kreatif dan inovatif.
  2. Peserta didik mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
  3. Peserta didik dapat mencoba gagasan baru.
  4. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan pengalaman peserta didik.
  5. Mendorong peserta didik untuk mengubah gagasan mereka.
  6. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Konstruktivisme adalah suatu filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi manusia sendiri. Manusia membentuk pengetahuan melalui peristiwa,  objek, pengalaman dan lingkungan. Pengetahuan bisa benar apabila dapat menghadapi dan memecahkan permasalahan. Menurut paham konstruktivisme, bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer (diberikan) begitu saja kepada orang lain kecuali seseorang tersebut dapat menafsirkannya. Pengetahuan bukan instan tetapi membutuhkan proses yang terus-menerus berkembang.

  1. Konstruktivisme Psikologi Personal

Konsrtuktivisme psikologis ini berfokus pada bagaimana individu membangun elemen-elemen dari apparatus kognitif dan emosionalnya. Pada konstruktivisme psikologis ini lebih tertarik pada pengetahuan, keyakinan, konsep-konsep diri, atau identitas individual sehingga disebut sebagai konstruktivisme individual yang memfokuskan pada diri sendiri.

  1. Konstruktivisme Psikologi Sosial

Konstruktivisme psikologi sosial contohnya adalah Vygotsky. Vygotsky mempercayai bahwa interaksi sosial, perangkat kultural dan aktivitas lain dapat menentukan perkembangan dan pembelajaran individual. Dengan berpartisifasi dalam aktivitas yang dilakukan bersama orang lain dihasilkan produk-produk dari kerja sama yang terjalin. Salah satu  keunggulan dari pembelajaran Vygotski adalah karena ia mempertimbangkan yang bersifat psikologis dan sosial.

  1. Konstruktivisme Sosiologis

Konstruktivisme sosiologis lebih menekankan pada konstruktivisme sosial darpada konstruktivisme individual. Contohnya yaitu tentang Zona of Proximal Development (zona perkembangan proksimal) wilayah seseorang yang mencari penyelesaian masalah dengan bantuan orang dewasa atau sebaya yang mampu disebut sebagai tempat budaya dan kognisi saling tercipta.

Seorang siswa harus belajar dan menalar pembelajarn yang diberikan guru kepada siswa, dimana guru menciptakan pembelajaran penalaran. Siswa harus berkonsentrasi untuk mendapatkan perkembangan dalam setiap pembelajaran, terjadi perubahan terus-menerus pada proses perkembangan belajar siswa. Pada konstruktivisme sosiologis, siswa diajak untuk mengamati, berbuat, menebak dan mencoba.


Baca Juga :