Caping Gunung
Umum

Caping Gunung

Caping Gunung

Caping Gunung
Caping Gunung

Nuwun sewu. Saya ingin berbagi perasaan saya dalam mendengarkan sebuah musik. Kebetulan tadi pagi sebelum berangkat ngantor, sambil ngopi saya mendengarkan tembang Caping Gunung karya musisi agung Gesang, divokalkan oleh Silir Pujiwati (orkes Sinten Remen), dicampur dengan keroncong, gamelan Jawa, swing, dan country oleh Fransiscus Xaverius Jadhuk Ferianto. Wah, sedap sekali:

Caping Gunung

Dik jaman berjuang, ’njur kelingan anak lanang

Biyen tak openi, ning saiki ana ngendi

Jarene wis menang, keturutan sing digadhang

Biyen nate janji, ning saiki apa lali

Ning nggunung, tak cadhongi sega jagung

Yen mendhung, tak silihi caping nggunung

Sukur bisa nyawang, gunung desa dadi reja

Bene ora ilang nggone padha lara lapa

***

Konon lagu di atas diciptakan oleh Gesang untuk ”menagih” janji-janji Jepang sebagai Saudara Asia. Waktu itu, pada masa PD II, Jepang mengobral janji kepada rakyat di negara-negara Asia, termasuk Hindia Belanda, bahwa mereka akan membebaskan rakyat Asia dari penjajahan bangsa barat, bahwa mereka membawa kemakmuran bagi saudara-saudara mereka di Asia. Tetapi ternyata Jepang pun tak lebih dari penjajah. Jika dulu rakyat Hindia Belanda dipaksa oleh Belanda untuk menanam tebu dan kopi, maka Jepang memaksa mereka menanam jarak pagar, bahan baku bahan bakar mesin-mesin perang Jepang. Sama-sama sengsara. Janji Jepang tinggal janji belaka.

Jika Cak Durasim menggugat ini semua dengan cara yang amat telanjang lewat parikannya, pagupon omahe dara, melu Nipon awakku sara, maka Gesang menggugat dengan cara yang amat halus lewat tembang di atas. Gesang mungkin menggambarkan dirinya—bersama orang-orang Jawa lainnya—sebagai Bengawan Solo: mengalir tenang, tetapi diam-diam menyimpan kekuatan dahsyat.

Tetapi tentu kemudian tembang Caping Gunung tidak bisa dibatasi hanya pada tagihan penciptanya atas janji-janji Jepang. Penikmat tembang ini bisa menghayatinya sebagai cerita tentang Malin Kundang yang durhaka dan mengingkari ibu yang melahirkannya, bisa juga tentang gadis yang dikibuli oleh lelaki atau lelaki yang dikibuli oleh gadis, bahkan bisa juga tentang petugas bank thithil yang diusir oleh kliennya. Terserah pada suasana yang meliputi si penikmat. Gesang tidak bisa dan tak pernah membatasi penafsiran para penikmat tembang Caping Gunung. Mungkin Gesang cukup sadar, dibatasi seketat apa pun, tembangnya tetap akan ”mengalir sampai jauh”. Meminjam ungkapan Roland Barthes, pengarang akan mati begitu karangannya tercipta, karangan itulah yang hidup. Ia akan berkembang, beranak pinak, melahirkan berbagai penafsiran, dan bisa digunakan untuk mewakili jutaan fakta dan kegelisahan. Menurut pandangan Barthes tersebut, Gesang telah ”mati” begitu tembang Caping Gunung tercipta.

Contoh yang sama dapat dijumpai pada episode pewayangan Petruk Dadi Ratu. Episode ini tidak ada di dalam epos Mahabarata maupun Ramayana. Entah mengapa di dalam tradisi wayang kulit Jawa muncul cerita itu. Biasanya para dalang menjadikan cerita ini sebagai metafor bagi kebangkitan rakyat jelata, kaum proletar, atau kaum mustadl’afin untuk melawan penguasa lalim dan menggantinya dengan pemimpin yang adil. Tetapi Mus Mulyadi lewat tembang Petruk Dadi Ratu, justeru menjadikan cerita Petruk Dadi Ratu sebagai semacam satire bagi penguasa yang kerjanya ongkang-ongkang kaki sampil menandatangani tender ini dan itu dengan dikelilingi bidadari.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/puzzle-horror-apk/