Manusia Dalam Prespektif Kekhalifahan
Pendidikan

Manusia Dalam Prespektif Kekhalifahan

Manusia Dalam Prespektif Kekhalifahan

Eksistensi manusia

 

Istilah eksistensi mempunyai makna yang terkaya dan terdalam, ditemukan dalam bahasa arab. Eksistensi berasala dari akar kata kerja wajada, bentuk kata ini berarti “menemukan” dan turunnya adalah wujud (ada), wijdan (sadar), wajd (nirwana) dan wujd. Dalam bentuk wajd, wujd, dan wijdan berarti “mempunyai milik”, dan mempunyai milik pada akhirnya mengantarkan pada wujud independen, yakni wujud yang tidak tergantung pada yang lain. Mana lain dari istilah wujud (eksisensi) dan suatu keberadaan yang dirasakan, ditemukan dan ditentukan oleh panca indera. Karena itu dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang dapat dirasakan panca indera. Di sisi lain ada juga keberadaan yang tidak dapat diketahui dengan perasaan tapi dengan nalar. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa eksisensi manusia berarti keberadaan manusia, artinya segala sesuatu yang ada atau yang muncul yang dapat diemukan atau dirasakan pada diri manusia baik secara fisis maupun metafisis, empiris maupun meta empiris.

Manusia Dalam Prespektif Kekhalifahan

 Ada pengertian eksistensi manusia oleh Al-Ghazalli didefinisikan sebagai komposisi yang meperlihatkan keberadaan manusia dalam suatu totalitas. Artinya manusia sebagai kenyataan faktual terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu komposisi yang menunjukkan keberadaannya. Eksistensi manusia merupakan perpaduan antara beberapa unsur yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Menurut Ibnu Qoyyim, hakikat diri manusia itu merupakan paduan antara beberpa unsur yang saling berkaitan dan tidak mungkin dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Beberapa unsur yang dimaksud itu adalah ruh, akal dan badan. Hal yang sama juga dikemukakan oleh M. Qutb bahwa dalam perspektif islam eksistensi manusia yang merupakan paduan antara ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang terpadu dan saling berkaitan, badan yang bersifat materi tidak bisa dipisahkan dengan akal dan ruh yang bersifat imateri. Masing-masing dari ketiga unsur tersebu memiliki daya aau potensi yang saling mendukung dan melengkapi dalam perjalanan hidup manusia.

  1. Eksistensi Manusia dalam Perspektif Kekhalifahan

Manusia mempunyai keistimewaan dibanding dengan makhluk Tuhan yang lainnya dimuka bumi ini. Keistimewaan ini bisa dilihat dari sisi penciptaan fisik maupun personalitas karakternya. Karena keistimewaannya itu, manusia memiliki tugas dan kewajiban yang berbeda dengan makhluk yang lain. hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 30-33 yang memaparkan proses kejadian manusia dan pengangkatannya sebagai khalifah. Proses kejadian inilah yang dapat memberikan pengertian kedudukan manusia sebagai khallifatullah dalam Alam Semesta. Sebagaimana diungkapkan beberapa penafsir berikut:

  1. Musthafa Al-Maraghi

Menurut Musthfa Al-Maraghi Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33 menceritakan tentang kisah kejadian umat manusia. Menurutnya dalam kisah penciptaan Adam yang terdapat dalam ayat tersebut mengandung hikmah dan rahasia yang oleh Allah diungkap dalam bentuk dialok antara Allah dengan malaikat. Ayat ini termasuk ayat Mutasyabihat yang tidak cukup dipahami dari segi dhahirnya ayat saja. Sebab jika demikian berarti Allah mengadakan musyawarah dengan hambanya dalam melakukan penciptaan. Sementara hal ini adalah mustahil bagi Allah. Karena ayat ini kemudian diartikan dengan pemberitaan Allah pada para malaikat tentang penciptaan Khalifah di Bumi yang kemudian para Malaikat mengadakan sanggahan. Berdasarkan tersebut, maka ayat diatas merupakan tamsil atau perumpamaan dari Allah agar mudah dipahami oleh manusia, khususnya mengenai proses kejadian Adam dan keistimewaannya.

baca juga :