Teori Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Pendidikan

Teori Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Teori Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Teori Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Teori Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Terdapat teori lingkaran kekerasan  untuk memahami mengapa istri tetap berupaya mempertahankan perkawinannya. Siklus kekerasan terdiri atas tiga tahap utama, teori ini dikembangkan oleh Walker sebagai berikut (Ichwan, 2010):

  1. Tahap pembentukan ketegangan

Pada tahap ini terjadi ketegangan di antara dua pihak, kadangkala diantara pihak-pihak yang mengalami ketegangan masih memiliki pandangan yang rasional sehingga seringkali luapan-luapan emosi yang terjadi diupayakan untuk diminimalisir. Pada tahap ini pihak perempuan yang bersitegang mencoba untuk melindungi dirinya dan membangun beberapa pengendalian terhadap situasi dengan menunjukkan sifat selalu mengalah atau tidak menunjukkan rasa marah.

  1. Tahap tindakan kekerasan

Pada tahap ini ketegangan mulai memuncak dengan terjadinya tindakan kekerasan. Hal ini biasanya diwujudkan dalam bentuk marah secara verbal, terjadinya penganiayaan fisik, dan / atau perkosaan.

  1. Tahap memperbaiki ketegangan dengan bulan madu

Pada tahap ini suasana kembali tenang, manis, dan penuh kemesraan. Pelaku kekerasan menunjukkan rasa penyesalan dan minta maaf pada pasangannya. Bentuk perilaku yang diwujudkan biasanya lebih perhatian, lebih menyayangi dan lebih bijaksana. Pada tahap ini korban dengan harapan-harapannya, mencoba memaafkan pelaku, mungkin sambil terus mempersalahkakn dirinya sendiri. Namun tahap ini tidak dapat bertahan terus, terjadi konflik-konflik dan ketegangan yang akan meletus lagi dalam bentuk kekerasan, demikian seterusnya, siklusnya berputar dan berulang.

StudiWalker menemukan bahwa perempuan akhirnya meninggalkan pasangannya setelah tahap pembentukanketegangan terlalu sering dan lama, sementara tahap bulan madu menjadi jarang atau tidak ada. Pada kondisi inilah akhirnya perempuan tersebut tidak lagi berharap pasangannya akan berubah, dan ia pun meninggalkannya.Fenomena kekerasan yang terjadi, perempuan sebagai korban seringkali terjebak dalam siklus kekerasan, meskipun sering mengalami kekerasan, tapi sulit untuk memutuskan hubungan dikarenakan masih mencintai pasangannya, masih ada harapan yang mungkin pula berpadu dengan rasa takut (Ichwan, 2010).

Banyak sekali faktor yang menyebabkan seorang suami melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga, seorang suami dapat melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga disebabkan oleh adanya hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara suami dan istri jadi suami disini merasa dirinya yang berkuasa dan bebas melakukan apapun terhadap istrinya, ketergantungan ekonomi juga menyebabkan faktor kekerasan dalam rumah tangga karena disini hanya seorang suami yang mencari nafka sedangkan istri hanya bergantung pada suami maka hanya suami yang merasa berhak mengendalikan semuanya, menurut para suami dengan melakukan tindak kekerasan maka istrinya bisa menuruti semua kehendak dari suami maka kekerasan dijadikan alat untuk menyelesaikan konflik, frustasi seorang suami karena beberapa faktor seperti belum siap kawin, belum kerja menyebakan suami menjadi stes dan bisa melakukan kekerasan terhadap istri, persaingan antara suami dan istri dalam hal pendidikan, jabatan, pergaulan dapat menjadi faktor kerasan dalam rumah tangga (Saputra, 2009).

Sumber : https://busbagus.co.id/