PEMIKIRAN TAN MALAKA
Pendidikan

PEMIKIRAN TAN MALAKA

PEMIKIRAN TAN MALAKA

PEMIKIRAN TAN MALAKA
PEMIKIRAN TAN MALAKA

Dalam pemikiran Tan Malaka sudah jelas di buka pada tulisannya yang berjudul Madilog. Disana ia berbicara masalah Materialisme, Dialektika dan Logika. Perlu diketahui Madilog ialah cara berpikir, yang berdasarkan Materialsime, Dialektika dan Logika buat mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang cukup banyaknya dan tujuan diperalamkan dan diperamati.[4] Dan sekarang akan saya jelaskan arti dan daerahnya dari Materialisme, arti dan daerahnya dari Dialektika, serta arti dan daerahnya dari Logika.
a. Dialektika
Pertama arti daerahnya dari Dialektika yang diungkapkan Tan Malaka yaitu, timbulnya persoalan dialektika di terangkan pada pasal satu yaitu ada beberapa perkara yang akan menjelaskan timbulnya persoalan dialektika antara lain; bisa dilihat dari faktor Tempo, berkena-kenaan/berselak-beluk, pertentangan dan pergerakan. Pada persoalan tempo Tan Malaka memberi contoh pada Thomas edison yang dulunya di usir karena kebodohannya dan lambat laun menjadi pintar dan jenius. Ini disebabkan perjalanan yang dulunya bodoh menjadi jenius ini melalui tempo. Dan contoh selanjutnya yaitu disekolah diajarkan tentang psikotes yang awalnya hanya titik bisa menjadi garis selanjutnya menjadi bidang, dan bidang menjadi badan, semua melalui melalui tempo tanpa tempo semua ini tidak bisa terjadi.
Dan pada faktor berkenaan atau berhubungan Tan Malaka memberi contoh dalam diri manusia ada jantung, paru-paru, hati, tulang-belulang dsb. Menurut darwin ini semuanya pasti ada hubungannya atau mempunyai selak-beluk. Jadi semua makhluk hidup mempunyai hubungan. Selanjutnya pada faktor bertentangan Tan Malaka memberi contoh Tuan Fulus Muslimin yang Berpunya uang, sebagian besar dari kaum Ulama dan Pemerintah berdasar “kepunyaan sendiri”, tentulah 100 % membenarkan putusan itu. Selanjutnya Petani yang berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok dengan semua Undang kemodalan dan cocok dengan semua Agama. Adilkah keputusan hakim yang membela si tuan fulus??? Ketika logikanya dalam kemasyarakatan semua orang tidak mengambil keputusan dengan kata ya atau tidak. Ini merupakan faktor suatu yang bertentangan dengan dialektika. Dan faktor terakhir dari timbulya Dialektika yaitu faktor gerakan. Tan malaka memberi contoh seperti bola yang bergerak dan tidak bisa ia tetap disitu ia berpijak. Dialektika ini pada dasarnya semua benda di dunia ini pada dasarnya tidak tetap. Seperti kehidupan dan kematian semua oang tidak bisa menilai ia harus hidup dan mati pada waktu yang ditentukan oleh semua orang.
Ketika Dialektika dibahas dalam sejarah di Indonesia. Banyak hal yang unik alam perjalanan Dialektika di Indonesia ini. Dialektika ini antara lain yaitu pengaruh luar negeri, pengarus bangsa Indonesia yang asli, pengaruh Hindu, dsb. Pengaruh luar negeri kita tidak bisa membaca terhadap sejarah Indonesia karena tidak ada ahli sejarah yang jujur mereka hanya pandai berdongeng, dan bercerita dengan kehendaknya. Dialektika dalam sejarah Indonesia bisa disimpulkan bahwa pertama, sejarah Indonesia merupakan, seluruhnya atau separuhnya, sejarah Hindu. Kedua, bahwa perasaan masyarakat sebagai bangsa yang dulu mempunyai kemegahan nasional, sangat tidak pada tempatnya. Dan terakhir, bahwa dari hinduisme tidak mungkin akan timbul suatu renaisance.[5]
b. Logika
Sebelum jauh menerangkan tentang Logikanya Tan Malaka sebagai spring-board (papan-pelompat), tiga defines Ilmu Bukti, yakni : (1) Pikiran yang jitu, tepat atau (2) Penyusunan bukti atau (3) Penggampangan dengan mengumumkan. Maka semua hal ini pada geometry terbentuk oleh cara synthetic, memasang bukti sampai menjumpai teori, analytic, mengungkai (membuka) teori atas buktinya dan ad-absurdum, cara menyesatkan buat memperlihatkan kebenaran suatu teori. Maka ketiga cara dalam Geometry ini seperti sudah dijelaskan ada sangat berkenaan pula dengan caranya Ilmu Fisika & Co, bekerja : induction, dari bukti naik ke undang, deduction dari undang turun kebukti dan verification, penglaksanaan, sesudah sesat bertemu lagi.[6]
Logika itu Cuma salah satu perkara dalam “Madilog” dan seperti sudah dibilang, bukanlah perkara yang terpenting. Yang akan diuraikan pada pasal ini, Cuma beberapa “puncak” yang nyata dalam barisannya sisa Logika itu. Logika itu membuat Anda berpikir lurus dengan kenyataan. Bukti itu adalah fakta. Maka jangan bicara tanpa bukti yang jelas, kata Tan Malaka.
c. Materialisme
Materialisme adalah suatu filsafat ajaran yang baru berkembang pesat di abad 19, dan dikembangkan oleh beberapa materialis Russia semacam Lenin, Plekhanov dan beberapa filsuf german dan negara lainnya. Materialisme adalah suatu cara pandang yang real terhadap dunia alam raya yang bersifat materi atau kebendaan. Dalam banyak hal materialisme lebih mampu menjelaskan fenomena cara pandang dunia dibanding paham idealisme yang diturunkan secara turun temurun sampai ke tingkat paling dasar.
Lewat buku Madilog Tan Malaka dan Materialisme-nya Lenin dan George Plekhanov. Lenin dan Plekahanov konon mendapat bantuan signifikan dalam mengembangkan filsafat materialisme dari Feuerbach. Dengan mengikuti Baruch Spinoza, Feuerbach menyatakan bahwa materialisme adalah yang primer dan ide adalah yang sekunder. Satu-satunya dasar manusia adalah jasmani, dan jiwa akan mengikuti jasmani. Ambillah dari manusia jasmaninya, maka akan terambil jiwanya, terambil semangatnya. Jasmani adalah bagian dari dunia objektif dan adanya jiwa adalah tergantung pada jasmani begitu diantaranya uraian Feuerbach.
Tan Malaka menyesuaikan teori Marx dengan pemahaman pribadinya pada situasi dan kondisi Indonesia Materialisme dari Tan Malaka yaitu mengambil perjalanannya yang paling penting dalam membantu kaum petani yang biasa Karl Max sebut sebagai kaum ploretar, akan tetapi perbedaan dari Marx dan Tan Malaka yaitu Marx condong pada kaum buruh sedangkan Tan Malaka lebih condoh pada kaum petani, karena pada saat itu yang berkembang justru pertanian bukan perindustrian seperti pada jamannya Marx.
IV. KRITIK PEMIKIRAN TAN MALAKA
Murbaisme merupakan sebuah paham atau pemikiran yang dipelopori oleh Tan Malaka. Secara garis besar pemikiran Murbaisme Tan Malaka ini sebenarnya ingin mewujudkan sebuah masyarakat Indonesia baru yang sosialis dengan berlandaskan pada kerakyatan tanpa menafikan adanya kepercayaan terhadap Tuhan. Program Nasional Tan Malaka menyarankan bahwa apabila buruh menasionalisasi industri-industri besar, maka orang-orang yang bukan proletar (petani-petani, pedagang-pedagang kecil, pengusaha-pengusaha kecil dan orang-orang intelek) harus juga diberikan pembagian ekonomi yang sama. Hal lain yang menjadi perhatian dan pokok kajian Tan Malaka dalam keyakinan politik Murbaisme-nya adalah strategi dan taktik. Menurutnya, sukses gagalnya suatu program nasional dalam perjuangan revolusioner tergantung pada benarnya strategi dan taktik. Hal terakhir dalam pokok kajiannya adalah mengenai organisasi (partai). Menurutnya, yang dimaksud dengan Partai Revolusioner ialah gabungan orang-orang yang bersamaan pandangan dan perbuatannya dalam revolusi.
Materi mengenai Murbaisme Tan Malaka ini mengandung nilai-nilai kepemimpinan, perjuangan (patriotisme), nasionalisme, toleransi, politik dan juga pendidikan kerakyatan, yang pada gilirannya dapat diteladani oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu, materi ini dapat diajarkan pada tingkat pendidikan menengah maupun sebagai salah satu contoh kajian sejarah pemikiran modern atau sebagai sejarah politik pada tingkat perguruan tinggi.
V. KESIMPULAN
Berbagai hal telah dijelaskan mengenai kehidupan Tan Malaka, akan tetapi penjelasan tersebut hanya selintas dari apa yang telah Tan Malaka perbuat untuk bangsa dan negara ini. Tan Malaka memang dibesarkan oleh pendidikan Barat yang sekuler, sehingga pemikiran Tan Malaka selalu dipengaruhi oleh perubahan secara mendasar. Pengaruh tersebut kemudian memberikan pemahaman tentang aliran-aliran yang berkembang di Indonesia, seperti materialisme, Dialektika, dan Logika.
Tan Malaka berdasarkan penelaahan terhadap pemikirannya dapat dipastikan bahwa beliau ialah seorang pemimpin politik yang netral terhadap agama, namun sangat kental dalam segi nasionalisme terhadap bangsa dan negara Indonesia. Dengan begitu, harus dipahami bahwa pola pemikiran Tan Malaka selalu dibenturkan dengan rasio yang matang dalam mengambil setiap keputusan, serta setiap keputusan dari Tan Malaka kemungkinan besar memberikan arah politik dalam praktik politik di Indonesia. Gaya bergerak yang militan dan radikalnya yang sering ia pergunakan untuk menyatukan aksi-aksi masanya.
Ia juga tidak dengan revolusi yang sifatnya kudeta, bentuknya anarkis sehingga membuahkan keributan dan kekerasan, atau dalam situasi dan kondisi dulu melalui Volksraad (Dewan Rakyat). Ia lebih suka menggunakan massa aksi yang menggunakan aksi boikot, mogok massa, demonstrasi. Karena menurutnya jika menggunakan putch atau kudeta biasanya segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Dan gerombolan itu biasanya mencangkan kemauan sendiri dengan tidak memperdulikan perasaan dan kecakapan sendiri dengan tidak memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa. Dia mungkin lupa atau mungkin tidak tahu bahwa massa dapat di tarik kearah aksi politik yang keras (dalam kacamata modern) penuh kesengsaraan serta reaksi yang membabi buta.
Berbeda dengan aksi massa yang memperhitungkan waktu, tempat, dan taktik secara matang, dan ia juga harus mempunyai pemimpin yang pintar. Sehingga massa aksi ini berjalan dengan baik, dan massa yang ada tidak menghilang begitu saja, mereka dapat mengontrol massa aksi yang ada. Serta, massa aksi juga memegang peta perjuangan sehingga ia dapat mempermainkan musuh dengan jalan maju selangkah dan kemudian maju sekaligus untuk menggempur habis-habisan.
Mungkin demikianlah makalah ini saya sampaikan, semua kekurangan datangnya dari saya dan saya berjanji akan memperbaiki kekurangan ini semua dengan semaksimal mungkin. Karena kekurangan datangnya dari saya dari kelebihan datang dari sang penguasa. Manusia hanya dapat berusaha akan tetapi tuhan lah yang menentukannya.

 

Sumber : https://my.sterling.edu/ICS/Academics/LL/LL379__UG08/FA_2008_UNDG-LL379__UG08_-A/Blog_105.jnz?portlet=Blog_105&screen=View+Post&screenType=next&&Id=6440e3cc-8f2c-49c7-8ed1-ee55e4270ff1