Hidupku Seperti Lilin Yang Terbakar
Umum

Hidupku Seperti Lilin Yang Terbakar

Hidupku Seperti Lilin Yang Terbakar

Hidupku Seperti Lilin Yang Terbakar
Hidupku Seperti Lilin Yang Terbakar

Sebagai seorang anak bungsu, aku (sebut saja dengan nama Ririn) seharusnya mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari kakak-kakakku. Tetapi ayah, ibu serta saudara-saudaraku yang lain selalu memperlakukan aku layaknya anak tertua bahkan mungkin anak tiri. Sejak aku masih sekolah di tingkat dasar semua pekerjaan rumah selalu aku yang mengerjakan dan membereskan, kakak-kakakku tak ada yang mau perduli dengan kesulitan-kesulitan yang kudapat. Sebetulnya aku memang berkewajiban membantu kedua orang tuaku yang hanya memiliki usaha kecil-kecilan dengan membuka toko kelontong. Itulah sebabnya saat aku menginjak usia 15 tahun, aku bertekad membiayai sekolahku sendiri. Dan tekadku itu akhirnya menjadi kenyataan hingga aku lulus SMU. Setamat SMU, dan karena aku telah memiliki pengalaman dalam bekerja dengan mudahnya aku mendapat pekerjaan. Aku diterima menjadi seorang karyawan di toko serba ada. Karena hasil kerjaku yang dinilai sangat baik, membuat jabatanku sangat cepat naik dan secara otomatis gajiku juga naik dengan cepat. Namun hasil yang kudapat dari pekerjaan itu habis hanya untuk membantu kakak-kakakku dalam membiayai hidup dan sekolah anak-anaknya. Tentu saja hal itu membuatku sangat kecewa. Mereka yang seharusnya membantu adiknya malah terus merongrongku dengan segala kesulitannya. Namun jika aku berfikir lebih jernih, mungkin ini memang sudah kewajibanku membantu mereka yang tengah dalam kesulitan. Di tempatku bekerja inilah aku akhirnya bertemu dengan Agus (bukan nama sebenarnya) yang menjadi suamiku saat ini. Bersama Agus aku memilki banyak kesamaan. Selain ketampanan dan kecerdasan otaknya, seperti juga aku Agus juga berasal dari keluarga yang keadaan social ekonominya sangat sederhana. Karena itu aku berharap kami bisa sama-sama memulai dari bawah utnuk mencapai hidup sejahtera. Dan akhirnya kami menikah. Namun pernikahan itu ternyata tak seindah yang aku bayangkan. Diawal pernikahanku sudah mulai timbul pertengkaran. Setelah pertengkaran itu, aku baru menyadari bahwa dibalik ketampanan dan kecerdasannya, Agus seorang yang temperamental sekalipun untuk masalah yang terbilang sepele. Kelakuan buruknya ternyata tak sampai disitu, Agus juga ternyata gemar berjudi dan inilah awal kehancuran hidupku. Dari kegemarannya berjudi akhirnya membuat Agus memiliki banyak hutang. Gaji bulananya tak pernah cukup untuk menutupi hutangnya tersebut. Bahkan sejak tahun kedua pernikahannku, tidak sesenpun gaji bulannya diberikan padaku, semuanya menguap dimeja judi. Karena kegemarannya itu pula Agus pernah ditahan pihak kepolisian karena tertangkap basah sedang berjudi. Karena tak tega melihat ia di penjara, akupun mengeluarkan agus dengan uang jaminan. Tapi ternyata Agus tak juga jera dia tetap saja berjudi, padahal usia pernikanku dengan Agus telah memasuki tahun ke-enam. Sampai kami melahirkan anak pertama tabiat Agus bukanya mereda, malah sebaliknya kegemarannya berjudi semakin menjadi-jadi. Tapi aku bertekad memperjuangkan perkawinanku ini, dengan harapan Agus bisa merubah semua kebiasaan buruknya. Selain itu aku memang tak ingin anakku nanti bertanya tentang ayahnya jika aku memutuskan untuk bercerai. Diluar dugaan, Agus yang begitu temperamental ternyata memiliki kerapuhan. Ia pernah mencoba mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga, namun untunglah jiwanya masih tertolong. Efek dari perbuatannya tersebut, aku harus menanggung beban biaya yang tak sedikit lantaran Agus harus dirawat selama beberapa hari karena racun yang ia telan telah masuk kedalam paru-parunya. Belum selesai sampai disitu, bebanku semakin bertambah dengan datangnya empat orang kolektor kartu kredit yang menagih hutang Agus. Saat itu tak kurang dari dua puluh tiga juta yang harus kukeluarkan untuk melunasi hutang tersebut. Dan terpaksa aku harus menguras habis isi tabunganku, belum lagi biaya untuk keperluan anakku yang masih balita. Sepertinya hidupku memang bukan untukku melainkan untuk orang-orang yang aku kasihi dan cintai, biarlah aku berkorban untuk mereka dan mudah-mudahan Tuhan memberiku ketabahan dan jalan keluar.

Baca Juga :