Kesehatan

Cara mempraktikkan kesabaran anak yang mudah dilakukan ?

Anda tentu setuju, jika tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka menunggu, baik orang dewasa maupun anak kecil. Masalahnya adalah, jika Anda mengantri dengan ketidaksabaran kecil Anda, bisa jadi dia akan berteriak dan membuat Anda merasa malu atau tidak nyaman dengan orang lain. Pada akhirnya, Anda sendiri merasa marah dan marah. Sebaliknya, Anda hanya bisa marah ketika merespons tangisan, Anda harus belajar cara melatih kesabaran anak Anda.

Cara mempraktikkan kesabaran anak yang mudah dilakukan?


Jika menunggu antrian, menunggu hadiah ulang tahunnya dibuka, menunggu kapan dia bisa bermain dengan teman adalah hal yang sangat sulit dilakukan anak.

Karena itu, mengajarkan kesabaran anak sangat penting dan ini bisa mulai menghadirkan Anda sejak Anda masih kecil. Tujuannya, tentu saja, adalah agar anak-anak dapat mengembangkan rasa toleransi untuk menjadi lebih sabar. Sehingga nantinya tidak akan mudah untuk bertindak gegabah dalam hal seperti ini di masa depan. Bagaimana Anda melatih kesabaran anak Anda? Inilah caranya.

1. Beri anak kesempatan untuk berlatih menunggu
Tumbuhnya kesabaran pada anak-anak membutuhkan latihan terus menerus. Pada kenyataannya, cara melatih kesabaran untuk anak-anak cukup mudah, memberi anak kesempatan untuk berlatih dengan sabar dan menunggu.

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang menunggu dengan sabar adalah anak-anak yang memiliki kemampuan untuk mengalihkan perhatian. Misalnya, bernyanyi atau melakukan kegiatan yang mengasyikkan di depan cermin ketika mereka harus menunggu sesuatu.

Anak-anak biasanya dilatih sendiri untuk mengalihkan perhatian, dengan sikap sederhana di pihak orang tua, yaitu dengan orang tua yang sering berkata “Tunggu sebentar, ya”, ketika anak mulai meminta sesuatu. Anak akan menyerap kata-kata “tunggu” dan akan mencari cara atau kegiatan lain sambil menunggu orang tua merespons mereka atau memenuhi permintaan mereka.

2. Percayalah bahwa anak-anak dapat mengendalikan sikap mereka
Cara melatih kesabaran anak-anak adalah kunci untuk mempercayai anak-anak. Yakinlah bahwa anak-anak dapat bertanggung jawab. Ini juga membutuhkan latihan. Itu bisa dimulai dengan metode sederhana. Misalnya, ketika seorang anak mengambil buku di lemari dan dengan ceroboh meletakkannya, minta anak mengembalikan buku itu ke lemari. Minta anak Anda untuk melakukan apa yang Anda inginkan dengan sabar dan jangan lupa kontak mata.

Berikan contoh kepada anak-anak sesering mungkin. Misalnya, ketika seorang anak menjatuhkan makanan di lantai sebagai bentuk protes. Tunjukkan pada anak untuk mengembalikan makanan yang tumpah di lantai ke meja. Tunjukkan jalannya dan biarkan anak melanjutkan prosesnya.

Disiplin mengajar dapat membuat orang mengerti bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Jika Anda ingin kembali ke meja Anda, Anda harus bersabar ketika mencoba mengumpulkan makanan yang telah jatuh.

Ajari anak-anak batasan, tetapi juga tunjukkan cinta Anda ketika Anda berlatih mental anak-anak. Anak-anak membutuhkan cinta dan juga keteguhan. Jika seorang anak mendapat cinta tanpa mengetahui batas perilakunya, si anak akan menjadi bos kecil yang kurang sensitif.

3. Tanggapi dengan sabar anak-anak
Orang tua juga harus sabar untuk mengajar anak-anak kesabaran. Misalnya, ketika Anda berada di dapur memasak telur untuk sarapan, bayi Anda bertanya tentang kain. Jelaskan perlahan bahwa Anda akan mengambil kain dalam beberapa menit.

Ketika Anda sibuk melakukan kegiatan, dan anak itu meminta sesuatu, tunjukkan pada anak apa yang Anda lakukan dan minta dia untuk melakukan hal yang sama. Metode ini akan membuat anak mengerti dan belajar bahwa dia harus menunggu, sementara itu juga melatih anak untuk tidak mengeluh ketika dia meminta sesuatu.

Dengan diam-diam menanggapi perilaku anak, Anda mengajar anak itu bahwa ia bukan satu-satunya pusat perhatian. Dengan cara ini anak mengerti bahwa ada hal-hal lain di luar dirinya yang harus dipertimbangkan. Bahkan anak-anak dilatih untuk tidak memaksakan keinginan mereka, untuk belajar menunggu ketika mereka meminta sesuatu kepada orang tua mereka yang melakukan sesuatu yang lain.

Baca juga: