Pendidikan

Bahaya Psikotropika dan Bagaimana Cara Menghindarinya

Bahaya Psikotropika dan Bagaimana Cara Menghindarinya

Apa hal yang paling menyedihkan yang dulu kamu rasakan? Bagian yang kala kamu mengingatnya, dapat membuatmu masuk ke dalam anggapan lebih jauh. Ke dalam kemurungan. Rasanya seperti mengidamkan menyendiri. Menangis di pojokan sekencang-kencangnya. Sampai habis suara. Sampai tersebar berlembar-lembar tisu. Sampai kamu merasa, bahwa hidup ini tidak adil dan kamu jadi menyalahi semuanya. Ketika kamu berada di puncak perasaan sedih seperti itu, kala kamu jadi sepedih itu, semuanya sanggup berujung kepada satu hal: psikotropika. Dan selagi dalam situasi sedih, kita sanggup lupa apa saja bahaya psikotropika itu.

Lebih jauh lagi, banyak pengguna psikotropika yang berakhir terhadap kematian. Mulai berasal dari berita yang menyebutkan kecuali si A tidak sanggup hidup dengan kehidupan sosialnya selama ini. Sampai alasan remeh seperti ditinggal nikah dan selanjutnya stres agar memilih untuk overdosis saja. Berita paling akhir kebanyakan kita temukan di Koran Lampu itu.

Tapi, benarkah melacak pelarian seperti mengonsumsi psikotropika adalah jawabannya? Apakah hidup kita jadi senang setelahnya? Bagaimana kecuali sesudah mengonsumsi psiktropika, overdosis, mati, lantas di alam selanjutnya jadi menyesal, stres, dan selanjutnya pengin make psikotropika lagi? Bukannya happy ending, jadi derita tiada ending.

Ada bermacam alasan kala seseorang mengambil keputusan untuk mengonsumsi psikotropika (bukan narkoba, ya). Hal paling klasik adalah sebab obat-obatan membuat dia tenang. Ada sesuatu yang mengubahnya jadi lebih senang. Ada sesuatu yang menjadikannya seolah terbang.

Masalahnya, apa benar seperti itu efek psikotropika?

Apa benar psikotropika sanggup membuat kita senang begitu saja?

Selagi mengupas dampaknya, kita dapat mengupas psikotropika dalam bermacam kategori. Berdasarkan dampaknya bagi tubuh, psikotropika terbagi jadi beberapa kategori:

STIMULAN

Stimulan adalah kategori psikotropika yang jika dikonsumsi dapat merangsang kerja sistem saraf pusat dan kerja organ. Ketika seseorang pakai stimulan, dia dapat jadi senang dan senang berlebihan. Itulah mengapa tersedia asumsi bahwa orang yang senang “senyum-senyum sendiri” adalah pengguna obat-obatan.

Masalahnya, apakah efek “senang” yang ditimbulkan itu berdampak baik? Kalau sebenarnya efek singkat berasal dari dorongan hanya itu saja, apa bedanya dengan tiduran di sofa siang-siang? Sama-sama membuat senang.

Sayangnya, hal ini berbeda.

Perasaan “senang” yang timbul akibat priskotropika dapat menurunkan energi koordinasi tubuh. Hal ini terjadi sebab kita kekurangan neurotransmitter—zat yang sanggup mengantarkan dorongan saraf.

Di otak kita, tersedia dopamine—neurotransmitter yang berguna untuk “membuat kita jadi bahagia”. Contohnya, selagi kita makan es krim cokelat, dopamine dapat membuat kita jadi “Wah, enak banget nih es krim. Rasanya mantul! Mantap betul! Besok beli lagi ah!” sambil merem melek keenakan sendiri. Hal ini sebenarnya keluar menyenangkan.

Tapi, apa yang terjadi kecuali si dopamine ini dihasilkan berasal dari hal negatif kayak psikotropika?

Pada akhirnya, seorang pengonsumsi “butuh” rasa senang itu terus-menerus. Dia jadi “candu” kepada obat-obatan. Dan kala efek candu itu muncul, bermakna kamu perlu membeli. Dan iya, kamu perlu mengeluarkan duwit banyak. Lebih parahnya, kala kamu tidak mendapatkan obat-obatan tersebut, kamu dapat frustasi dan masuk ke dalam “kesepian” yang sebelumnya kamu coba hindari.

Adapun umpama berasal dari psikotropika model stimulan: Ekstasi, amfetamin.

DEPRESAN

Berbeda dengan dorongan yang dapat memberikan efek “senang dan aktif”, depresan ini sebaliknya. Ini adalah model psikotropika yang membuat sistem kerja saraf menurun. Saat seseorang mengonsumsi depresan, badannya dapat condong jadi tenang dan rileks. Kalau berlebihan? Tentu, kamu dapat tenang, tenang, tenang, dan nggak bangun-bangun lagi. Hmmmm.

HALUSINOGEN

Bisa tebak berasal dari namanya? Halusinogen adalah kategori psikotropika yang sanggup mengacaukan sistem kerja saraf pusat. Kalau kamu mengonsumsi halusinogen, anggapan kamu dapat “dirusaki”. Kamu jadi berimajinasi dan ada masalah membedakan dunia nyata, dan mana dunia rekaan kamu sendiri.

Kamu kemungkinan berpikir bahwa halusinasi hanya dapat membuat kita “membayangkan” sesuatu yang ngawur. Lalu apa bahayanya?

Ya jelas bahaya, dong. Bayangkan tersedia seseorang pakai LSD (lysergic acid Diathylamide) lantas ia mengendarai sepeda motor. Bisa jadi di dalam pikirannya, ia adalah pembalap moto gp benaran. Alhasil, dia ngebut-ngebutan, mengabaikan ketentuan lantas lintas dan jadi menabrak tiang listrik. Ya, semua berawal berasal dari pakai psikotropika. Serem abis.

Kalau menurut kamu itu belum cukup dan tetap berkilah “Ya udah, abis make LSD, gue di tempat tinggal aja! Joget-joget kayak Nella karisma!” Eits, menunggu dulu. Dalam jangka panjang, jika dikonsumsi terus-menerus, LSD dan bermacam model halusinogen sanggup membuat kamu memiliki gangguan lain. Seperti misalnya, mengalami kerusakan otak, gangguan energi ingat, apalagi beresiko kematian.

Lalu, bagaimana langkah kita menjauhkan ini?

Bagaimana agar kita tidak kecanduan psikotropika?

Jawabannya: gampang.

Pertama-tama, mari kita lagi ke abad 20-an. Masa di mana para peneliti membuat eksperimen mengenai “kecanduan”. Saat itu, para peneliti memasukkan seekor tikus ke dalam kandang kosong. Ia kemudian sedia kan dua model minuman; satu merupakan air mineral normal, dan yang satunya adalah air mineral yang mempunyai kandungan psikotropika.

Apa yang terjadi?

Si tikus meminum air yang mempunyai kandungan heroin. Lalu, seperti halnya yang terjadi terhadap manusia, dia kecanduan. Alhasil, ia meminumnya lagi, dan lagi.

Dia pun overdosis, dan mati.

Sekilas ini menandakan bahwa kecanduan adalah sistem yang tentu terjadi dan tidak sanggup dihindari. Ini tentu terlalu berbahaya. Sampai terhadap tahun 1970-an, Bruce Alexander, seorang profesor di bidang psikologi menemukan sebuah kejanggalan: ia jelas kecuali kandang tikus yang dijadikan eksperimen kosong. Si tikus hanya sendirian, dan, tidak memiliki “pilihan lain” selain “mengonsumsi psikotropika”.

Si profesor kemudian membuat perubahan eksperimen ini. Dia memberikan bermacam “mainan” untuk si tikus. Di dalam kandangnya diberikan lorong untuk bermain, bola-bola warna-warni, dan tikus lain untuk “bersosialisasi”.

Hasilnya? Dia tidak minum air yang mempunyai kandungan psikotropika sebegitu banyak. Dia tidak overdosis dan lebih memilih untuk banyak minum berasal dari air normal.

Apa artinya?

Kecanduan, atau mengonsumsi zat-zat beracun seperti psikotropika terlalu didasari oleh lingkungan konsumen. Ketika seseorang jadi kesepian, sendirian, “tidak sanggup laksanakan apa-apa” dan di hadapannya disodorkan psikotropika, kemungkinan besar dia dapat kecanduan. Dia jadi psikotropika adalah jalan keluar untuk membuatnya bahagia. Hasilnya, kita, kamu, siapa saja, sanggup overdosis dan meninggal dunia.

Sebaliknya, kala hidup kita dikelilingi lingkungan yang menyenangkan, sanggup laksanakan hal yang kita senang tanpa beban, tanpa jadi sendirian. Dengan situasi ini, meskipun kita disodorkan oleh psikotropika, secara tidak sadar, tubuh kita dapat “menghindarinya”. Karena kita jadi tidak perlu hal-hal semacam itu. Kita tidak butuh kebahagiaan palsu.

Itulah sebabnya, seringkali kita tidak benar persepsi dalam pertemanan. Terkadang, kita jadi pertemanan yang besar adalah segalanya. Kita jadi mengandalkan bermacam langkah agar memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Lingkaran pertemanan yang besar seringkali membawa persepsi kecuali seseorang “eksis abis”. Padahal kita, di dalamnya, sanggup jadi jadi tidak nyaman dan menemukan kepalsuan. https://www.biologi.co.id/

Karena seharusnya, menjauhkan psikotropika semudah menjauhkan pertemanan yang diukur.

Dan menggantinya jadi rasa syukur.